Foke versus Jokowi

www.detik.com, Jakarta: Seperti prediksi, kerasnya kompetisi 11 Juli lalu memaksa kandidat petahana mengubur impiannya untuk kembali melenggang ke Balaikota dengan mudah. Ronde kedua pemilukada DKI Jakarta yang akan berlansung setelah Lebaran nanti, bisa dipastikan akan berlangsung dengan ketat, bahkan lebih keras dari putaran pertama. Mengapa demikian?

Berbeda dengan putaran pertama, jumlah kandidat yang hanya dua akan memaksa terbentuknya polarisasi variabel kompetisi yang sebelumnya terkaburkan oleh enam pasang kandidat. Lantas, variabel apa sajakah yang akan mewarnai pertarungan Foke versus Jokowi dua bulan ke depan?

Polarisasi Isu Primordial

Tidak bisa dipungkiri, sentimen primordial kerap mewarnai ajang pemilihan langsung bahkan di negara kampiun demokrasi seperti Amerika sekalipun. Umumnya, latar belakang etnik dan agama-lah yang kerap menjadi tema ‘panas’ untuk diperdebatkan. Suka atau tidak, preferensi publik di Jakarta 11 Juli lalu, juga menampilkan potret yang tidak jauh berbeda.

Data BPS terkini menunjukkan bahwa ada empat suku utama di DKI Jakarta. Jawa (36% dari populasi), Betawi (26,3%), Sunda (15,9%) dan Tionghoa (5,6%). Sementara data agama menunjukkan pemeluk agama Islam berjumlah 84,7% dari populasi, dan pemeluk agama Katolik- Protestan 11,2% dari populasi.

Menurut penulis, data exit poll yang dipublikasikan Lembaga Survei Indonesia, menunjukkan adanya sentimen keberpihakan berbasis etnik dan agama yang mempengaruhi perilaku politik pemilih. Dari sisi suku misalnya, pola ini bisa terlihat pada tiga suku utama di DKI Jakarta, Jawa, Betawi dan Tionghoa. 48% suku Betawi lebih memilih pasangan Foke-Nara ketimbang Jokowi (28%) dan HNW (12%). Suku Jawa jelas lebih memilih kandidat berlatar belakang Jawa.

Hal ini dibuktikan oleh 55% pemilih Jawa memilih Jokowi dan 12% memilih HNW, ketimbang hanya 21% yang memilih Foke. Dan uniknya, 100% pemilih Tionghoa menjatuhkan pilihannya pada Jokowi-Ahok. Dari sisi agama, pemilih berlatar belakang Protestan dan Katolik-lah yang menunjukkan adanya pola pilihan. Secara berurutan 77% dan 76% pemilih beragama Protestan dan Katolik lebih memilih Jokowi-Ahok ketimbang pasangan lainnya.

Polarisasi Isu Perubahan Versus Status Quo

Selain sentimen primordial, pilkada 11 juli juga menunjukkan adanya gerakan kuat menginginkan perubahan di DKI Jakarta. Terlepas dari tidak terlacaknya motif sepertiga pemilih yang tidak menggunakan hak suaranya, lebih dari separuh jumlah pemilih yang hadir di TPS telah memutuskan untuk menghadirkan perubahan di Jakarta.

Perolehan suara Foke-Nara yang hanya berkisar 34 persen hingga 35 persen di banyak hitung cepat menunjukkan bahwa tema keberhasilan pemprov DKI tidak bisa diterima oleh publik. Tidak berlebihan rasanya mengatakan seberapapun besar klaim keberhasilan Fauzi Bowo diiklankan, hasilnya tidak akan efektif melawan arus perubahan yang secara defacto telah menjadi ‘mainstream’ di benak publik.

Pertarungan Kunci: Aliansi Baru

Lantas, strategi apa yang harus dirancang pada babak kedua. Menurut saya, Strategi Aliansi Baru akan menjadi salah satu pertarungan kunci. Strategi aliansi harus memperhatikan kedua sentimen di atas. Dari sisi kesukuan, manuver kedua kandidat pada basis pemilih Jawa akan lebih dinamis ketimbang Betawi. Selain kuantitas yang besar, etnik Betawi kemungkinan besar sudah akan ‘dikunci’ oleh Foke-Nara.

Dari sisi isu, Jokowi jelas akan melakukan mobilisasi isu perubahan yang diwakili oleh kelima kandidat penantang Foke. Bila Jokowi-Ahok mampu mempersonifikasikan dirinya menjadi sebagai satu-satunya figur perubahan, bukan mustahil pemilih HNW, Faisal Basri, Alex Noerdin dan Hendardji akan ramai-ramai melengserkan Fauzi Bowo. Satu-satunya cara yang bisa dilakukan Foke, ‘merayu’ satu atau dua kandidat penantang lainnya, agar pemilih mereka memutuskan untuk tidak memilih Jokowi, atau minimal bersikap netral.

Memperhitungkan Faktor HNW dan PKS?

Latar belakang kandidat dan jumlah suara yang dikumpulkan oleh kandidat PKS, Hidayat Nur Wahid bisa saja menjadi kartu truf yang menarik untuk diperebutkan. Sebagai orang Jawa, HNW jelas lebih mampu memobilisasi pemilih Jawa daripada Foke. Dan dari sisi nada perlawanan, sepertinya ‘tone’ pesan politik kandidat PKS tersebut tidak lebih keras ketimbang retorika Jakarta Tidak Lagi Berkumis yang disuarakan Hendardji Soepandji, atau iklan memojokkan yang kerap digunakan Alex Noerdin dan komentar pedas Faisal Basri di media.

Jika pemilih kandidat Gubernur PKS direbut oleh Jokowi, Fauzi Bowo jelas akan menghadapi mimpi buruk. Sementara jika Foke berhasil meyakinkan pemilih HNW dan PKS, peruntungan Jokowi-Ahok di putaran kedua nanti bisa saja berubah. Kita lihat saja nanti.

Detik.com

Trackback from your site.

Rico Marbun, M.Sc.

Peneliti The Future Institute, Pengajar Universitas Paramadina dan Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian

Leave a comment