Membaca Pertarungan Pilgub Jabar

detik.com, jakarta : Genderang perang politik telah ditabuh di Jawa Barat. Sampai hari ini ada 5 pasang kandidat yang akan bertarung memperebutkan posisi nomor satu di provinsi dengan penduduk terbesar di Indonesia tersebut. Empat pasang kandidat dari partai politik, dan sepasang dari jalur independen.

Posisi Jawa Barat sangat strategis. Penguasaaan terhadap wilayah berpenduduk 43 juta jiwa pada pemilukada tahun depan jelas merupakan batu loncatan yang kokoh untuk Pemilu Legislatif dan Presiden 2014 nanti. Bagaimanakah sketsa kompetisi yang dapat mencuat melihat konfigurasi para kandidat?

Klaim Kemajuan versus Perubahan

Titik konflik pertama ialah isu kelanjutan keberhasilan atau perubahan. Di satu sisi, kelompok kandidat incumbent jelas akan berkampanye mengutarakan aneka ‘success story’, sementara sisi lain akan bersuara sebaliknya. Tema perubahan dan perbaikan yang disuarakan kelompok kandidat penantang akan membentur 74 jenis penghargaan resmi atas keberhasilan pembangunan yang diterima oleh pemerintah provinsi Jawa Barat. Salah satu jumlah penerima penghargaan terbesar di Indonesia.

Rumitnya, justru pada poin ini lah dua kandidat petahana akan terbelah. Pasangan Dede Yusuf-Lex Laksamana yang notabene Wakil Gubernur dan mantan Sekretaris Daerah tentu tidak akan membiarkan Gubernur Ahmad Heryawan untuk bebas melenggang melakukan klaim tunggal.

Siapakah Artis Paling Berpengaruh?

Tak berlebihan rasanya bila Pemilukada Jawa Barat digelari sebagai pilgubnya para artis. Dari 5 pasang kandidat, tiga di antaranya berpasangan dengan selebritis. Aktor senior Dedy Mizwar, Dede Yusuf dan Rieke Diah Pitaloka ‘Oneng’, akan adu kuat membuktikan siapakah artis yang paling banyak mengumpulkan simpati.

Berpasangan dengan artis bisa dilihat sebagai jalan pintas meraih suara. Pada era di mana pencitraan adalah resiko de facto, ‘personal appeal’ menjadi tuntutan yang tak dapat dihindari. Mengapa demikan?

Banyak riset yang menunjukkan bahwa pemilih rasional ialah ilusi. Tentu pernyataan ini tidak dimaksudkan untuk menegasikan sama sekali ada porsi kelompok pemilih yang menjadikan kompetensi sebagai basis pilihan politik. Namun, sebagian besar pemilih adalah pemilih non rasional.

Riset yang dilakukan oleh Kendall dan Yum dalam bukunya ‘Persuading The Blue Collar Voters: Issue, Images and Homophily’ menunjukkan bahwa mayoritas orang akan memilih pemimpin seperti memilih teman. Daya tarik emosional dan personal seperti empati, integritas, kesukaan, kepandaian, dan kedekatan menjadi faktor dominan.

Daya tarik personal-lah yang menjadi jalan termudah bagi pemilih dalam menilai kandidat favoritnya. Hal ini terjadi karena keterbatasan alamiah yang dimiliki manusia untuk memproses informasi. Sebagian besar kita bukanlah ‘pecandu politik’. Sebagian besar kita tentu tidak menghabiskan sebagian besar waktu hanya untuk mencari, mengumpulkan, memilah dan menimbang informasi politik.

Artinya, asumsi dasar bahwa rasionalitas pemilih adalah segalanya runtuh dengan sendirinya. Di celah inilah simbiosis mutualisme antara selebritis dan politisi terjadi.

Basis Politis dan Basis Wilayah

Pilgub tahun depan juga akan menunjukkan manakah strategi yang lebih unggul. Pemenangan berbasis suara politik atau penguasaan kewilayahan. Dede Yusuf-Lex Laksamana mengandalkan gabungan suara partai pendukungnya: Demokrat, Gerindra, PAN dan PKB. Total koalisi partai itu memiliki modal 37,73% suara pemilu 2009 lalu.

Ahmad Heryawan-Dede Mizwar yang merepresentasikan koalisi nasionalis religius PKS, PPP, PBB, Hanura menguasai hampir 30% suara di Jawa Barat. Rieke-Teten dengan PDIP yang menguasai 14.75% suara. Sementara itu Golkar terlihat lebih mengkombinasikan strategi penguasaan basis wilayah dan suara politik.

Pasangan cagub-cawagub yang notabene mantan kepala daerah di bagian utara dan selatan Jawa Barat jelas menunjukkan pilihan strategi ini. Irianto MS Syafiuddin atau yang akrab disapa Yance adalah mantan bupati dua periode Indramayu dan Tatang Farhanul Hakim adalah mantan bupati dua periode Tasikmalaya. Total 7,75% numlah penduduk dua kabupaten tersebut diharapkan menjadi tambahan atas 14,35% modal politik Golkar 2009 lalu.

Jokowi Effect

Satu satunya pasangan kandidat yang jelas menggunakan ‘demam’ Jokowi ialah kandidat PDIP Rieke-Teten. Tanpa tedeng aling-aling pasangan ini jelas mengcopy-paste gaya baju kotak kotak Jokowi saat mendaftar. Laiknya Jokowi, pasangan ini juga memproklamirkan diri sebagai pasangan paling ‘miskin’ dana kampanye. Selain ingin memposisikan sebagai kandidat paling merakyat, Rieke-Teten jelas ingin mendulang sentimen positif publik atas Jokowi.

Hanya saja strategi ini mengandung dua potensi masalah. Bisa saja publik menilai kandidat ini tidak kreatif dan suka meniru. Atau bahkan blunder akibat ketergantungan yang terlalu besar pada aura Jokowi. Bila daya tarik Jokowi meredup, positioning Rieke-Teten juga akan meredup.

Satu satunya strategi yang belum terlihat jelas ialah strategi kandidat independen. Kandidat independen tidak bisa lagi memanfaatkan strategi anti partai. Jebloknya suara kandidat jalur non partai di Jakarta menunjukkan bahwa ’menunggangi’ semangat anti partai tidak lantas menghasilkan efek elektoral yang positif.

Namun kita harus ingat, pemilukada kadang seperti sepakbola. Sukar ditebak, sering berakhir dengan kejutan, dan tak ada jaminan pasti. Kemenangan bisa jatuh pada kandidat yang tak diunggulkan sekalipun. Di sinilah seninya.

*) Rico Marbun adalah Peneliti The Future Institute, Staf Pengajar Universitas Paramadina dan Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian

detik.com

Trackback from your site.

Rico Marbun, M.Sc.

Peneliti The Future Institute, Pengajar Universitas Paramadina dan Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian

Leave a comment